Kamis, 09 Juni 2011

anemia hemolitik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sel darah merah (eritrosit) merupakan komponen yang paling banyak di antara unsure-unsur pembentukan darah. Eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen ke sel-sel seluruh tubuh dan membawa karbondioksida ke paru-paru.
Di dalam setiap eritrosit terdapat suatu zat kimia penting dalam sel yang disebut hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu senyawa yang dibentuk dari unsure besi berisikan zat pewarna yang disebut heme dan protein yang disebut globulin.
Pada umumnya, di dalam darah laki-laki dewasa terdapat sebanyak 5 juta eritrosit per satu millimeter kubik darah dan 4,5 juta eritrosit di dalam darah wanita dewasa. Eritrosit memiliki bentuk seperti cakram bikonkaf atau cekung pada kedua sisinya. Eritrosit tidak memiliki inti dan berukuran sangat kecil dengan diameter sekitar 7 sampai 8 µm.
Pembentukan eritrosit terutama terjadi pada sum-sum tulang di ujung tulang panjang dan di seluruh bagian dalam tulang lainnya, seperti tulang dada, tulang rusuk, dan tulang punggung.
Pada dasarnya jumlah eritrosit yang dihasilkan di dalam tubuh berfluktuasi menurut kebutuhan dan oksigen yang tersedia. Contohnya, penduduk yang tinggal di daerah dataran tinggi biasanya mampu menghasilkan eritrosit dalam jumlah yang lebih banyak disbanding yang tinggal di daerah dataran rendah.
Eritrosit biasanya berumur sekitar 110 sampai 120 hari. Eritrosit yang sudah tua akan dirombak di dalam limpa dan hati. Di dalam hati, hemoglobin diubah menjadi zat warna empedu atau bilirubin, sedangkan zat besi masuk ke dalam sum-sum tulang sebagai bahan pembentuk tulang yang baru.
Dalam keadaan patologis, eritrosit ini mengalami waktu penghancuran atau perombakan yang cepat. Pada keadaan ini terjadi penurunan usia eritrosit baik sementara maupun terus menerus. Ini dapat terjadi bila sum-sum tulang sudah tidak mampu mengatasinya karena pendeknya usia eritrosit dan didukung oleh factor-faktor lain.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1. Apa pengertian anemia hemolitik?
2. Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan anemia hemolitik?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang anemia hemolitik; pengertiannya, faktor penyebab, dan jenis-jenis anemia.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran (detruksi) sel darah merah yang diikuti dengan ketidakmampuan dari sumsum tulang dalam memproduksi sel eritrosit.
Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor ekstrinsik. Perusakan sel-sel eritrosit yang diperantarai antibodi ini terjadi melalui aktivasi sistem komplemen, aktivasi mekanisme selular, atau kombinasi keduanya.

Gejala dari anemia hemolitik mirip dengan anemia yang lainnya. Kadang-kadang hemolisis terjadi secara tiba-tiba dan berat, menyebabkan krisis hemolitik, yang ditandai dengan:
- demam
- menggigil
- nyeri punggung dan nyeri lambung
- perasaan melayang
- penurunan tekanan darah yang berarti.
- Sakit kuning (jaundice) dan air kemih yang berwarna gelap bisa terjadi karena bagian dari sel darah merah yang hancur masuk ke dalam darah.

Klasifikasi Anemia Hemolitik:
A. Anemia hemolitik herediter / kelainan intrinsic
B. Anemia hemolitik akuisita
C. Anemia hemolitik imun diinduksi obat
D. Anemia hemolitik aloimun karena transfuse
E. Anemia hemolitik mikroangiopati
F. Hemoglobinuria paroksismal nocturnal



















BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Definisi
Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran (detruksi) sel darah merah yang diikuti dengan ketidakmampuan dari sumsum tulang dalam memproduksi sel eritrosit. Dalam keadaan normal, sel darah merah mempunyai waktu hidup 120 hari. Jika menjadi tua, sel pemakan dalam sumsum tulang, limpa dan hati dapat mengetahuinya dan merusaknya.
Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel darah merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.
Umur eritrosit rata-rata 120 hari. Pada anemia hemolitik eritrosit hanya bertahan untuk beberapa hari.

3.2 Penyebab
Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor ekstrinsik.
1. Faktor Intrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi pada sel eritrosit. Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Karena kekurangan bahan baku pembuat eritrosit
b. Karena kelainan eritrosit yang bersifat kongenital contohnya thalasemia & sferosis congenital
c. Abnormalitas dari enzim dalam eritrosit


2. Faktor Ekstrinsik :
Yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit.
a. Akibat reaksi non imumitas : karena bahan kimia / obat
b. Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri.

3.3 Patofisiologi
Perusakan sel-sel eritrosit yang diperantarai antibodi ini terjadi melalui aktivasi sistem komplemen, aktivasi mekanisme selular, atau kombinasi keduanya.
• Aktivasi Sistem Komplemen
Secara keseluruhan aktivasi sistem komplemen akan menyebabkan hancurnya membran sel eritrosit dan terjadilah hemolisis intravaskular yang ditandai dengan hemoglobinemia dan hemoglobinuria.
Sistem komplemen akan diaktifkan melalui jalur klasik ataupun jalur alternatif. Antibodi-antibodi yang memiliki kemampuan mengaktifkan jalur klasik adalah IgM, IgG1, IgG2, IgG3 disebut sebagai agglutinin tipe dingin, sebab antibodi ini berikatan dengan antigen polisakarida pada permukaan sel darah merah pada suhu di bawah suhu tubuh. Antibodi IgG disebut agglutinin hangat karena bereaksi dengan antigen permukaan sel eritrosit pada suhu tubuh.

3.4 Gejala
Gejala dari anemia hemolitik mirip dengan anemia yang lainnya. Kadang-kadang hemolisis terjadi secara tiba-tiba dan berat, menyebabkan krisis hemolitik, yang ditandai dengan:
- demam
- menggigil
- nyeri punggung dan nyeri lambung
- perasaan melayang
- penurunan tekanan darah yang berarti.
- Sakit kuning (jaundice) dan air kemih yang berwarna gelap bisa terjadi karena bagian dari sel darah merah yang hancur masuk ke dalam darah. Limpa membesar karena menyaring sejumlah besar sel darah merah yang hancur, kadang menyebabkan nyeri perut. Hemolisis yang berkelanjutan bisa menyebabkan batu empedu yang berpigmen, dimana batu empedu berwarna gelap yang berasal dari pecahan sel darah merah

Tanda-Tanda Proses Hemolisis
Penghancuran eritrosit yang berlebihan akan menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:
1. Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil pemecahan eritrosit. Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.
2. Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang seharusnya tidak ada karena hemoglobin terikat pada eritrosit. Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan menyebabkan hemoglobinemia.
3. Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.
4. Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai kompensasi banyaknya eritrosit yang hancur sehingga sel muda seperti retikulosit banyak ditemukan.


Diagnosa Anemia Hemolitik
1. Menentukan Anemia Hemolitik dibandingkan dengan anemia jenis lain dengan memeriksa:
• Adanya tanda penghancuran dan pembentukan eritrosit pada waktu yang sama.
• Terjadinya anemia yang diikuti dengan sistem eritropoesis yang meningkat (hipersensitivitas eritropoesis).
• Terjadinya penurunan kadar hemoglobin dengan cepat tanpa diimbangi dengan proses eritropoesis yang normal.
2. Menentukan penyebab spesifik dari anemia hemolitik tersebut.
3. Mengklasifikasikan termasuk ke dalam jenis anemia hemolitik apa.


gambar 1: Gambaran apus darah penderita anemia hemolitik ditandai dengan mikrosferosit (hiperkrom mikrositer) dan bentuk eritrosit abnormal.

Pemeriksaan Laboratorium
1. Gambaran penghancuran eritrosit yang meningkat:
- bilirubin serum meningkat
- urobilinogen urin meningkat, urin kuning pekat
- strekobilinogen feses meningkat, pigmen feses menghitam
2. Gambaran peningkatan produksi eritrosit
- retikulositosis, mikroskopis pewarnaan supravital
- hiperplasia eritropoesis sum-sum tulang
3. Gambaran rusaknya eritrosit:
- morfologi : mikrosferosit, anisopoikilositosis, burr cell, hipokrom mikrositer, target cell, sickle cell, sferosit.
- fragilitas osmosis, otohemolisis
- umur eritrosit memendek. pemeriksaan terbaik dengan labeling crom. persentasi aktifikas crom dapat dilihat dan sebanding dengan umur eritrosit. semakin cepat penurunan aktifikas Cr maka semakin pendek umur eritrosit.
3.5 Klasifikasi Anemia Hemolitik.
A. Anemia hemolitik herediter / kelainan intrinsik.
1. Defek membran :
a. Sferositosis herediter
Merupakan anemia hemolitik herediter diturunkan secara autosom dominan, paling umum di Eropa Utara disebabkan cacat protein struktural dari membran sel darah merah / defek membran. Sumsum tulang membuat sel darah merah normal yang bikonkaf tetapi sel darah kehilangan membrannya saat beredar melalui limpa dan sistem RES. Ratio permukaan sel terhadap volume berkurang dan sel menjadi lebih sferis sehingga kurang elastic melalui mikrosirkulasi dimana sferosit pecah lebih dini.
Tes Khusus:
• Fragilitas osmotik meningkat.
• Autohemolitik meningkat.
• Coomb’s direct test negatif.
• Cr51 destruksi oleh limpa terbanyak.


Gambar 2: Panah hitam: Bentuk Sferositosis

2. Defek metabolik / kelainan enzim :
a. Defisiensi enzim G6PD ( Glucosa 6-Phosphate Dehydrogenase).
Defisiensi G6PD diturunkan secara sex-linked, mengenai laki – laki dan didapatkan pada wanita yang memperlihatkan kadar G6PD sel darah merahnya setengah normal. Merupakan hemolisis intravaskuler yang berkembang cepat dengan faktor pencetus infeksi dan penyakit akut lain, obat-obatan dan kacang fava. Defisiensi enzim dideteksi dengan tes penyaring pemeriksaan enzim G6PD pada sel darah merah.
Gambaran darah tepi saat krisis: sel krenasi, sel fragmen, sel gigitan/bite, dan sel lepuh/blister. Heinz Bodies/hemoglobin teroksidasi terdenaturasi tampak pada retrikulosit, terutama pada saat splenektomi.



b. Defisiensi PK (Piruvat Kinase)
Diturunkan secara resesif otosomal homozigot. Sel darah merah lisis karena pembentukan ATP berkurang. Sel darah merah lisis karena pembentukan ATP berkurang. Anemia ringan dengan hemoglobin 4-10g/dl disebabkan pergeseran kurva disosiasi O2 ke kanan akibat kenaikan 2,3 DPG dalam sel.
Pemeriksaan Laboratorium : Autohemolisis meningkat. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan jumlah enzim PK.

B. Anemia hemolitik akuisita
Anemia hemolitik autoimun (AIHA) terjadi ketika terdapat autoantibodi yang berikatan dengan eritrosit, sehingga menghancurkan sel darah merah dan berujung pada manifestasi anemia. Anemia hemolitik autoimun menandakan adanya kegagalan dalam mekanisme pengenalan antigen diri. Mekanisme spesifik dari AIHA sendiri belum jelas sampai saat ini.
Sindrom AIHA secara umum dibagi berdasarkan hubungan antara aktivitas antibodi dan suhu. Antibodi tipe hangat yaitu molekul IgG mempunyai afinitas maksimal pada eritrosit di suhu tubuh. Sedangkan antibodi tipe dingin yaitu molekul IgM, mempunyai afinitas maksimal pada eritrosit di suhu rendah.
Insidens dari AIHA tipe hangat sekitar satu dari total 75-80.000 populasi di USA. Anemia hemolitik autoimun tipe hangat dapat muncul pada usia berapapun, tidak seperti AIHA tipe dingin yang seringkali menyerang usia pertengahan dan lanjut, atau Paroxysmal Cold Hemoglobinuria (PCH) yang melibatkan usia kanak-kanak.
Namun, di Indonesia tidak ada data yang khusus membahas tentang prevalensi dan insiden kasus AIHA secara nasional. Anemia hemolitik autoimun (autoimmune hemolytic anemia/ AIHA) merupakan suatu kelainan di mana terdapat antibodi terhadap sel-sel eritrosit sehingga umur eritrosit memendek.
Etiologi
Etiologi pasti dari penyakit autoimun memang belum jelas, kemungkinan terjadi karena gangguan central tolerance, dan gangguan pada proses pembatasan limfosit autoreaktif residual. Adapun klasifikasi anemia hemolitik autoimun sebagai berikut:
1. Anemia hemolitik autoimun tipe hangat
Sekitar 70% kasus AIHA memiliki tipe hangat, di mana autoantibodi bereaksi secara optimal pada suhu 37°C. Kurang lebih 50% pasien AIHA tipe hangat disertai penyakit lain. Eritrosit biasanya dilapisi oleh immunoglobulin (IgG) saja atau dengan komplemen, dan karena itu, diambil oleh makrofag retikuloendotelial yang mempunyai reseptor untuk fragmen Fc IgG.
Bagian dari membran yang terlapis hilang sehingga sel menjadi makin sferis secara progresif untuk mempertahankan volume yang sama dan akhirnya dihancurkan secara prematur, terutama di limpa. Jika sel dilapisi IgG dan komplemen (C3d, fragmen C3 yang terdegradasi) atau komplemen saja, destruksi eritrosit menjadi lebih banyak dalam sistem retikuloendotelial.
Gejala dan Tanda:
Penyakit ini dapat terjadi pada semua usia dan semua jenis kelamin, timbul
sebagai anemia hemolitik dengan keparahan yang bervariasi. Limpa seringkali membesar. Penyakit ini cenderung mengalami remisi dan relaps, dapat timbul sendiri atau disertai penyakit lain, atau muncul pada beberapa pasien akibat terapi metildopa.
Awitan penyakit tersamar, gejala anemia terjadi perlahan-lahan, ikterik, dan demam. Pada beberapa kasus dijumpai perjalanan penyakit mendadak, disertai nyeri abdomen, dan anemia berat. Urin berwarna gelap karena terjadi hemoglobinuria. Ikterik terjadi pada 40% pasien. Pada AIHA idiopatik splenomegali terjadi pada 50-60%, Hepatomegali terjadi pada 30%, dan limfadenopati terjadi pada 25% pasien. Hanya 25% pasien tidak disertai pembesaran organ dan limfonodi.
Laboratorium :
Temuan laboratorium dan biokimia bersifat khas pada anemia hemolitik ekstravaskular dengan sferositosis yang menonjol dalam darah tepi. Hemoglobin sering dijumpai di bawah 7 g/dl. Pemeriksaan Coomb direk biasanya positif. Autoantibodi tipe hangat biasanya ditemukan dalam serum dan dapat dipisahkan dari sel-sel eritrosit. Autoantibodi ini berasal dari kelas IgG dan bereaksi dengan semua sel eritrosit normal. Autoantibodi tipe hangat ini biasanya bereaksi dengan antigen pada sel eritrosit pasien sendiri, biasanya antigen Rh.
Prognosis dan Survival:
Hanya sebagian kecil pasien mengalami penyembuhan komplit dan sebagian besar memiliki perjalanan penyakit yang berlangsung kronik, namun terkendali. Survival 10 tahun berkisar 70%. Anemia, DVT, emboli paru, infark limpa, dan kejadian kardiovaskular lain terjadi selama periode penyakit aktif. Mortalitas selama 5-10 tahun sebesar 15-25%. Prognosis pada AIHA sekunder tergantung penyakit yang mendasari.
Terapi:
• Kortikosteroid: 1-1.5 mg/kgBB/hari.
Dalam 2 minggu sebagian besar akan menunjukkan respon klinis baik (Ht meningkat, retikulosit menurun, tes coombs direk positif lemah, tes comb indirek negatif). Nilai normal dan stabil akan dicapai pada hari ke-30 sampai hari ke-90. Bila ada tanda respon terhadap steroid, dosis diturunkan tiap minggu 10-20 mg/hari. Terapi steroid dosis <30 mg/hari diberikan secara selang sehari. Beberapa pasien akan memerlukan terapi rumatan dengan steroid dosis rendah, namun bila dosis perhari melebihi 15 mg/hari untuk mempertahankan kadar Ht, maka perlu segera dipertimbangkan terapi dengan modalitas lain.
• Splenektomi
Bila terapi steroid tidak adekuat atau tidak bisa dilakukan tapering dosis
selama 3 bulan, maka perlu dipertimbangkan splenektomi. Splenektomi akan menghilangkan tempat utama penghancuran sel darah merah. Hemolisis masih bisa terus berlangsung setelah splenektomi, namun akan dibutuhkan jumlah sel eritrosit terikat antibodi dalam jumlah yang jauh lebih besar untuk menimbulkan kerusakan eritrosit yang sama. Remisi komplit pasca splenektomi mencapai 50-75%, namun tidak bersifat permanen. Glukokortikoid dosis rendah masih sering digunakan setelah splenektomi.
• Imunosupresi
Azatioprin 50-200 mg/hari, siklofosfamid 50-150 mg/hari. Terapi lain: danazol 600-800 mg/hari. Biasanya danazol dipakai bersama-sama steroid. Bila terjadi perbaikan, steroid diturunkan atau dihentikan dan dosis danazol diturunkan menjadi 200-400 mg/hari.
Terapi immunoglobulin (400 mg/kgBB per hari selama 5 hari) menunjukkan perbaikan pada beberapa pasien, namun dilaporkan terapi ini juga tidak efektif pada beberapa pasien lain. Jadi terapi ini diberikan bersama terapi lain dan responnya hanya bersifat sementara. Terapi plasmafaresis masih kontroversial.
• Terapi transfuse
Terapi transfusi bukan merupakan kontraindikasi mutlak. Pada kondisi
yang mengancam jiwa (misal Hb < 3 g/dl) transfusi dapat diberikan, sambil menunggu steroid dan immunoglobulin untuk berefek.

2. Anemia hemolitik autoimun tipe dingin
Pada tipe ini, autoantibodi, baik monoklonal (seperti pada sindrom hemaglutinin dingin idiopatik atau yang terkait dengan penyakit limfoproliferatif) atau poliklonal (seperti sesudah infeksi) melekat pada eritrosit terutama di sirkulasi perifer dengan suhu darah yang mendingin.
Antibodi biasanya adalah IgM dan paling baik berikatan dengan eritrosit pada suhu 4°C. Antibodi IgM sangat efisien dalam memfiksasi komplemen dan dapat terjadi hemolisis intrvaskular dan ekstravaskular. Komplemen sendiri biasanya terdeteksi pada eritrosit, antibodinya telah mengalami elusi dari sel pada bagian sirkulasi yang lebih hangat. Pada hampir semua tipe ini, antibodi ditujukan pada antigen ‘I’ di permukaan eritrosit.
Gambaran klinis:
Pasien mungkin menderita anemia hemolitik kronik yang diperburuk oleh
dingin dan seringkali disertai dengan hemolisis intravascular. Dapat terjadi ikterus ringan dan splenomegali. Pasien dapat menderita akrosianosis di ujung hidung, telinga, jari-jari tangan dan kaki yang disebabkan oleh aglutinasi eritrosit dalam pembuluh darah kecil. Hemolisis berjalan kronik. Anemia biasanya ringan dengan Hb 9-12 g/dl.
Laboratorium:
Anemia ringan, sferositosis, polikromatosia, tes Coombs langsung memperlihatkan komplemen (C3d) saja pada permukaan eritrosit, eritrosit beraglutinasi dalam suhu dingin.
Prognosis dan Survival:
Pasien dengan sindrom kronik akan memiliki survival yang baik dan cukup stabil.
Terapi:
Menghindari udara dingin yang dapat memicu hemolisis, prednisone dan splenektomi tidak banyak membantu, klorambusil 2-4 mg/hari, plasmaferesis untuk mengurangi antibodi IgM secara teoritis bisa mengurangi hemolisis, namun secara praktik hal ini sukar dilakukan.

C. Anemia hemolitik imun diinduksi obat
Ada beberapa mekanisme yang menyebabkan hemolisis karena obat yaitu: hapten/penyerapan obat yang melibatkan antibodi tergantung obat, pembentukan kompleks ternary (mekanisme kompleks imun tipe innocent bystander), induksi autoantibodi yang bereaksi terhadap eritrosit tanpa ada lagi obat pemicu, serta oksidasi hemoglobin. Penyerapan/absorbsi protein nonimunologis terkait obat akan menyebabkan tes coombs positif tanpa kerusakan eritrosit.
Pada mekanisme hapten/absorbsi obat, obat akan melapisi eritrosit dengan kuat. Antibodi terhadap obat akan dibentuk dan bereaksi dengan obat pada permukaan eritrosit. Eritrosit yang teropsonisasi oleh obat tersebut akan dirusak di limpa. Antibodi ini bila dipisahkan dari eritrosit hanya bereaksi dengan reagen yang mengandung eritrosit berlapis obat yang sama (misal penisilin).
Mekanisme pembentukan kompleks ternary melibatkan obat atau metabolit obat, tempat ikatan obat permukaan sel target, antibodi, dan aktivasi komplemen. Antibodi melekat pada neoantigen yang terdiri dari ikatan obat dan eritrosit. Ikatan obat dan sel target tersebut lemah, dan antibodi akan membuat stabil dengan melekat pada obat ataupun membrane eritrosit.
Beberapa antibodi itu memiliki spesifisitas terhadap antigen golongan darah tertentu. Pemeriksaan coombs biasanya positif. Setelah aktivasi komplemen terjadi hemolisis intravaskular, hemoglobinemia, dan hemoglobinuria. Mekanisme ini terjadi pada hemolisis akibat obat kinin, kuinidin, sulfonamide, sulfonylurea, dan tiazid.
Banyak obat menginduksi pembentukan autoantibodi terhadap eritrosit autolog, seperti contoh metildopa. Metildopa yang bersirkulasi dalam plasma akan menginduksi autoantibodi spesifik terhadap antigen Rh pada permukaan sel darah merah. Jadi yang melekat pada permukaan sel darah merah adalah autoantibodi, sedangkan obat tidak melekat. Mekanisme bagaimana induksi formasi autoantibodi ini tidak diketahui.
Sel darah merah bisa mengalami trauma oksidatif. Oleh karena hemoglobin mengikat oksigen maka bisa mengalami oksidasi dan mengalami kerusakan akibat zat oksidatif. Eritrosit yang tua makin mudah mengalami trauma oksidatif. Tanda hemolisis karena proses oksidasi adalah dengan ditemukannya methemoglobin, sulfhemoglobin, dan Heinz bodies, blister cell, bites cell dan eccentrocytes.
Contoh obat yang menyebabkan hemolisis oksidatif ini adalah nitrofurantoin, phenazopyridin, aminosalicylic acid. Pasien yang mendapat terapi sefalosporin biasanya tes coombs positif karena absorbsi nonimunologis, immunoglobulin, komplemen, albumin, fibrinogen, dan plasma protein lain pada membran eritrosit.
Gambaran klinis:
Adanya riwayat pemakaian obat tertentu. Pasien yang timbul hemolisis
melalui mekanisme hapten atau autoantibodi biasanya bermanifestasi sebagai hemolisis ringan sampai sedang. Bila kompleks ternary yang berperan maka hemolisis akan terjadi secara berat, mendadak, dan disertai gagal ginjal. Bila pasien sudah pernah terpapar obat tersebut, maka hemolisis sudah dapat terjadi pada pemajanan dengan dosis tunggal.
Laboratorium:
Anemia, retikulositosis, MCV tinggi, tes coombs positif, leukopenia, trombositopenia, hemoglobinemia, hemoglobinuria sering terjadi pada hemolisis yang diperantarai kompleks ternary.

Terapi:
Dengan menghentikan pemakaian obat yang menjadi pemicu, hemolisis dapat dikurangi. Kortikosteroid dan tranfusi darah dapat diberikan pada kondisi berat.

D. Anemia hemolitik aloimun karena transfusi
Hemolisis aloimun yang paling berat adalah reaksi transfusi akut yang disebabkan karena ketidaksesuaian ABO eritrosit (sebagai contoh transfusi PRC golongan A pada pasien golongan darah O yang memiliki antibodi IgM anti-A pada serum) yang akan memicu aktivasi komplemen dan terjadi hemolisis intravaskular yang akan menimbulkan DIC dan infark ginjal. Dalam beberapa menit pasien akan sesak nafas, demam, nyeri pinggang, menggigil, mual, muntah, dan syok.
Reaksi transfusi tipe lambat terjadi 3-10 hari setelah transfusi, biasanya disebabkan karena adanya antibodi dalam kadar rendah terhadap antigen minor eritrosit. Setelah terpapar dengan sel-sel antigenik, antibodi tersebut meningkat pesat kadarnya dan menyebabkan hemolisis ekstravaskular.


E. Anemia hemolitik mikroangiopati
Dalam keadaan normal, sel darah merah berjalan di sepanjang pembuluh darah tanpa mengalami gangguan. Tetapi secara mekanik sel darah merah bisa mengalami kerusakan karena adanya kelainan pada pembuluh darah (misalnya suatu aneurisma), katup jantung buatan atau karena tekanan darah yang sangat tinggi. Kelainan tersebut bisa menghancurkan sel darah merah dan menyebabkan sel darah merah mengeluarkan isinya ke dalam darah. Pada akhirnya ginjal akan menyaring bahan-bahan tersebut keluar dari darah, tetapi mungkin saja ginjal mengalami kerusakan oleh bahan-bahan tersebut.
Jika sejumlah sel darah merah mengalami kerusakan, maka akan terjadi anemia hemolitik mikroangiopati. Diagnosis ditegakkan bila ditemukan pecahan dari sel darah merah pada pemeriksaan contoh darah dibawah mikroskop. Penyebab dari kerusakan ini dicari dan jika mungkin, diobati.

F. Hemoglobinuria paroksismal nokturnal
Hemoglobinuria Paroksismal Nokturnal adalah anemia hemolitik yang jarang terjadi, yang menyebabkan serangan mendadak dan berulang dari penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan.
Penghancuran sejumlah besar sel darah merah yang terjadi secara mendadak (paroksismal), bisa terjadi kapan saja, tidak hanya pada malam hari (nokturnal), menyebabkan hemoglobin tumpah ke dalam darah. Ginjal menyaring hemoglobin, sehingga air kemih berwarna gelap (hemoglobinuria).
Anemia ini lebih sering terjadi pada pria muda, tetapi bisa terjadi kapan saja dan pada jenis kelamin apa saja. Penyebabnya masih belum diketahui. Penyakit ini bisa menyebabkan kram perut atau nyeri punggung yang hebat dan pembentukan bekuan darah dalam vena besar dari perut dan tungkai.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium yang bisa menemukan adanya sel darah merah yang abnormal, khas untuk penyakit ini.
Untuk meringankan gejala diberikan kortikosteroid (misalnya prednison).
Penderita yang memiliki bekuan darah mungkin memerlukan antikoagulan (obat yang mengurangi kecenderungan darah untuk membeku, misalnya warfarin). Transplantasi sumsum tulang bisa dipertimbangkan pada penderita yang menunjukkan anemia yang sangat berat.
Pengobatan
Pengobatan anemia hemolitik termasuk dengan menghindari obat-obatan tertentu, mengobati infeksi terkait dan menggunakan obat-obatan yang menekan system kekebalan tubuh, yang dapat menyerang sel-sel darah merah. Pengobatan singkat dengan steroid, obat penekan kekebalan atau gamma globulin yang dapat membantu menekan system kekebalan tubuh yang menyerang sel-sel darah merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar